Abdul Rahman tak pernah tahu letak kubur adiknya, Iwan
Santoso, di pemakaman massal tragedi Mei 1998, Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
Padahal, saban tahun ia selalu sambangi makam itu.
Ritual Abdul di Pondok Ranggon ialah berdoa sembari menatap barisan
makam yang jumlahnya seratusan dan tanpa nama.
Kenangan Abdul melayang pada 14 Mei 1998 silam. Sang adik,
Iwan, 20, ikut jadi korban saat Yogya Plaza, Jakarta Timur, terbakar. Mal itu
jadi sasaran massa yang menjarah barang-barang di dalamnya.
Kondisi semakin horor setelah api melalap mal tersebut.
Sekitar 400 orang terjebak. Mereka kemudian ditemukan tewas
dengan tubuh terpanggang.
Korban yang tak dikenali identitasnya dimakamkan secara
massal di Pondok Ranggon itu. Nisan mereka hanya bertuliskan Korban Tragedi
13-15 Mei 1998 Jakarta.
Meski tak pernah tahu letak kubur adiknya, Abdul termasuk
yang setia mendatangi pemakaman ini tiap Mei tiba.
Abdul mengatakan, permintaan dia dan keluarga korban lain amat sederhana. Mereka ingin Pemerintah
menjelaskan tragedi itu dengan terang. Mereka juga ingin memperbaiki nama baik
korban yang meninggal. Sebab, korban diberi cap sebagai penjarah.
Berita feature itu ditulis Tempo.co tahun lalu,
sebagai gambaran nasib para keluarga korban Tragedi 1998, yang hingga kini
belum jelas penyelesaiannya.
Belakangan, Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie
mulai mendorong pengungkapannya--meski mengaku tak tahu apa permasalahan
Pemerintah--yang membuat penyelesaian kasusnya terus tersendat.
Sebagai solusi, Habibie minta keluarga dan pendamping korban
mengumpulkan dokumen yang terkait tragedi kemanusiaan itu, dan ia sendiri yang
nantinya akan menyerahkan dokumennya ke Presiden Joko Widodo.
"Nanti serahkan dokumennya ke Komnas Perempuan, saya
yang sampaikan langsung ke Presiden Jokowi," kata Habibie dalam acara
bertajuk Pidato Kebangsaan di Lokasi Pemakaman Massal Korban Tragedi Mei 98, di
TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, pada Senin (8/4/2017).
Acara itu sendiri diadakan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan). Habibie diundang karena dianggap sebagai tokoh
yang mau mendengarkan dan menanggapi keresahan para korban.
Habibie juga dinilai sebagai tokoh yang menolak
kekerasan, menyatakan permintaan maaf kepada korban dan mengupayakan
pembentukan tim pencari fakta ketika menjabat Presiden RI.
"Kita tidak boleh melupakan fakta yang sudah terjadi.
Ada yang mengatakan itu hanya berapa orang, tidak sampai seratus orang dari 250 juta. Tapi itu adalah ujung tombak dari
ketidakadilan," ujar Habibie dikutip Kompas.com.

Facebook
Twitter
Google+
0 komentar: